Keuangan.co

Ketua Kamar Dagang Indonesia Bidang Pembiayaan Infrastruktur.

Diding S. Anwar

Tantangan Memajukan Bangsa

Penulis: Diding S. Anwar
31 Juli 2019

Rakyat Indonesia telah memberikan kepercayaan kepada pasangan Presiden Joko Widodo dan wakilnya K.H. Ma’ruf Amin, untuk memimpin Indonesia periode 2019-2024. Keduanya sudah menyampaikan visinya ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang makin produktif, berdaya saing, dan mampu mengikuti beragam perubahan. Mereka juga meminta cara-cara lama yang menonton, linier, dan terjebak di zona nyaman dalam bernegara dapat ditinggalkan.

Indonesia menjadi bangsa yang maju adalah gambaran ideal tentang sebuah negara yang pasti diinginkan oleh seluruh bangsa ini. Dengan visi tersebut, kita juga memiliki kesempatan untuk mewujudkan apa yang diprediksi oleh McKinsey bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor tujuh pada 2030. Orediksi tersebut tak lepas dari besarnya potensi resources yang dimiliki Indonesia.

Untuk merealisasikan potensi yang dimiliki Indonesia menjadi hasil nyata untuk kemajuan bangsa, maka para pemimpin negeri ini harus mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada, seperti inrastruktur, korupsi, perbedaan nilai-nilai, penegakan hukum, hingga kedisiplinan. Para elite dan unsur-unsur politik juga harus memberikan contoh disiplin berpolitik untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia dan bukan untuk golongan-golongan tertentu di mana dia terikat di dalamnya.

Ke depan, tantangan dalam persaingan ekonomi global tidaklah mudah. Dinamika ekonomi dan geopolitik dunia, seperti adanya perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, telah mempengaruhi kondisi perekonomian dunia dan menekan neraca perdagangan Indonesia seperi dirasakan sejak tahun lalu. Ketika bangsa Indonesia masih sibuk menyatukan perbedaan pandangan politik dan menghadapi masalah competitiveness, negara-negara lain sudah memasuki era industry 4.0. Bahkan, kantor perdana menteri Jepang sudah meluncurkan “Society 5.0” awal tahun ini. Adalah wajar jika Jepang sudah melompati revolusi industry 4.0 ketika Indonesia baru akan menyongsongnya. Sebab, Jepang adalah negara maju yang sudah membangun big data jauh sebelun Indonesia sibuk membicarakan revolusi industry 4.0.

Dalam menyongsong revolusi industry 4.0 harus diiringi dengan upaya mengubah Indonesia dari sekedar pasar tapi menjadi negara industry. Di Industri manufaktur, Indonesia, yang 25 tahun silam dijuluki “Macan Asia” karena daya saing industrinya yang menonjol di Kawasan, seakrang kalah kompetitif dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Untuk mengembalikan kejayaan industry manufaktur sangat penting untuk menyelesaikan apa yang menjadi penghambat, seperti masalah ketenagakerjaan, logistic, perizinan, produktivitas sumber daya manusia, infrastruktur, dan rendahnya inovasi. Selain itu, perlu adanya pemilihan sector-sektor industri untuk dijadikan unggulan sehingga memiliki competitive adcantage.

Proses pembangunan menjadi negara maju dan unggul bukanlah proses lima atau sepuluh tahun, tapi proses yang berkesinambungan dalam jangka Panjang hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Indonesia adalah bangsa besar yang majemuk tapi kesepakatan yang dibuat sejak bangsa ini lahir harus dihormati sebagai sesuatu yang final. Apabila terdapat perbedaan pandangan dalam memajukan bangsa ini, barangkali rembuk nasional diperlukan untuk merumuskan visi negara jangka Panjang, tidak hanya 25 tahun ke depan tapi menyongsong 100 tahun ke depan. Setelah visi jangka Panjang ditetapkan, maka visi pemimpin bangsa harus menyeusaikan grand design Indonesia masa depan.

Untuk menuju visi jangka Panjang, maka berbagai persoalan yang menghambat kemajuan bangsa harus diatasi. Karena, persaingan ekonomi dan geopolitik global sangat dinamis dan sangat penting bagi Indonesia untuk meningkatkan inovasi dan daya saing dunia usaha serta memiliki sumber daya manusia yang siap menghadapi industry 4.0. Beberapa hal penting lain adalah pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan teknologi bisa dilakukan mandiri tanpa tergantung pada pihak asing. Teknologi di bidang pertanian sangat penting untuk mengejar swasembada pangan. Dan, untuk melanjutkan upaya mengatasi kemiskinan dan kesenjangan, maka pertumbuhan ekonomi harus didorong untuk meningkatkan daya beli masayarakat dan mengembangkan ekonomi rakyat dengan memanfaatkan basis kekuatan yang tercermin melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk dilibatkan dalam pengelolaan sumber daya ekonomi.

Masukkan kata kunci...

Social Links