Keuangan.co

Pimpinan Redaksi Keuangan.co.

Megel Jekson

Mahathir, Anwar dan Janji Politik

Penulis: Megel Jekson
22 Juli 2019

Barangkali, saat ini hal yang paling ditunggu-tunggu di Malaysia adalah sosok pengganti Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Maklum, selain usianya yang sudah sangat sepuh (sekitar 93 tahun), pria yang sempat disebut Little Soekarno itu memang kadung berucap dan berjanji akan menyerahkan kekuasaan kepada anak didiknya Anwar Ibrahim dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Setidaknya, hal itu disampaikan Mahathir saat diwawancarai The Star –media Malaysia- pertengahan Mei lalu. Mahathir secara tegas mengatakan tidak ada sosok lain yang akan menggantikannya selain Anwar.   

Akan tetapi, pangkal soal peralihan kekuasaan itu tentu bukanlah tentang kebaikan Mahathir. Janji tersebut justru merupakan bagian komitmen Mahathir dan Anwar saat bersekutu mengalahkan Najib Razak dalam pemilihan umum 2018 lalu, dengan membentuk Koalisi Pakatan Harapan. Saat itu, menunjuk Mahathir sebagai Perdana Menteri untuk sementara waktu adalah kompromi politik oposisi paling ampuh untuk mengalahkan Najib dan barisan UMNO.  

Namun menariknya hingga kini belum ada kepastian akan hal tersebut. Meski menyebut waktu 2 tahun, Mahathir tampak belum secara detail mempersiapkan rencana itu. Mahathir justru tampak terus mengulur-gulur waktu dengan mengatakan hanya akan berkuasa maksimal 3 tahun.

Hubungan Mahathir dan Anwar Ibrahim yang naik turun dalam sejumlah hal akhirnya juga membuat banyak pihak semakin ragu komitmen tersebut akan tetap berjalan. Terlebih, dalam kasus terakhir: video seks gay yang diduga melibatkan pembesar disana (yang disebut kandidat PM Malaysia yang lain), Mahathir justru tampak tidak membela Anwar. Mahathir malah menyebut video tersebut sebagai rencana politik pihak tertentu untuk menghabisi karir politik si Pembesar.

Dalam politik (dimanapun), boleh jadi tak ada yang bisa dipegang. Sebab, jangankan janji yang terucap, komitmen politik tertulis pun bisa dilanggar (di Indonesia, orang sering mengingat perjanjian Batutulis 2009 antara Megawati dan Prabowo Subianto) jika dianggap tidak menguntungkan.   

Namun demikian, Malaysia seperti punya norma dan tradisi politik sendiri. Negeri Jiran yang kental dengan budaya Islami itu hampir dapat dipastikan tidak menyukai figur politik yang tidak menepati janji. Siapapun mereka, jika enggan menepati janji pasti akan mendapat hukuman publik dalam pengadilan pemilu nanti.

Kita memang tak punya kepentingan langsung dengan suksesi kepemimpinan yang bakal terjadi di Malaysia. Tetapi kita sangat berharap jika muncul kepemimpinan baru, hal itu semestinya bisa membuat hubungan Indonesia – Malaysia akan semakin erat. Dan, boleh jadi, janji politik Mahathir yang dipenuhi adalah langkah awal untuk membuat wajah hubungan Indonesia – Malaysia menjadi semakin baik.

Baca Juga

Masukkan kata kunci...

Social Links