Keuangan.co

Ketua Kamar Dagang Indonesia Bidang Pembiayaan Infrastruktur.

Diding S. Anwar

Ketahanan Bangsa Berbasis Ekonomi

Penulis: Diding S. Anwar
04 Desember 2018

Ekonomi di banyak negara masih menghadapi tantangan ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global. Struktur ekonomi yang baik bisa menentukan daya tahan perekonomian negara ketika perekonomian global makin tidak menentu karena persaingan negara-negara maju di bidang perekonomian maupun kekuatan militernya. Sudah terbukti bahwa negara- negara dengan ekonomi yang lebih kuat mampu mengeluarkan belanja militernya untuk melindungi negaranya. Menurut data GFP, negara dengan ekonomi terbesar yaitu Amerika Serikat (AS) pada 2018 memiliki anggaran pertahanan US$647 miliar, diikuti Tiongkok sebesar US$151 miliar. Indonesia yang secara produk domestik bruto (PDB) berada di urutan ke-15 dunia, anggaran pertahanannya berada di urutan ke-30 dengan nilai US$6,90 miliar.

Perlu diketahui bahwa anggaran belanja Kementerian Pertahanan Indonesia tahun ini yang sebesar Rp106,1 triliun itu adalah yang terbesar di antara belanja kementerian lain. Namun, karena keuangan negara kita yang tak sebesar negara-negara maju, maka anggaran pertahanan Indonesia pun tak sebesar negara lain.

Apalagi Indonesia adalah negara yang sedang membangun untuk mengatasi dua persoalan utama di bidang ekonomi, yaitu kemiskinan dan kesenjangan. Bandingkan dengan Singapura yang PDB- nya jauh di bawah Indonesia. Namun, karena tidak memiliki masalah dalam bidang ekonomi, maka negara tetangga kecil berpenduduk sekitar 5 juta jiwa itu memiliki defence budget yang lebih besar dari Indonesia, yaitu US$9,7 miliar.

Dengan demikian, ketahanan suatu negara memang sangat ditentukan oleh ketahanan ekonominya. Untuk membangun ketahanan ekonomi, maka Indonesia harus menyelesai- kan kendala-kendala di bidang perekonomian, seperti infrastruktur, daya saing bisnis, dan persoalan lain seperti persediaan pangan dan energi. Karena kebutuhan lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan untuk menghasilkan produk, maka Indonesia harus mengimpor banyak barang konsumsi maupun barang modal. Pada 10 bulan pertama 2018, pertumbuhan impor migas dan nonmigas yang lebih tinggi sebesar 23,37% daripada pertumbuhan ekspor yang hanya naik 8,84% membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$5,51.

Defisit tersebut memperlemah fundamental ekonomi sehingga nilai tukar rupiah mengalami depresiasi. Yang lebih prihatin lagi adalah Indonesia mengimpor pangan dan energi.

Indonesia harus membuat langkah cepat menuju kemandirian pangan dan energi. Ketergantungan pada impor pangan dan energi menjadi tantangan besar karena jumlah penduduk Indonesia yang terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang sehingga menyebabkan kebutuhan akan pangan dan energi bakal makin membengkak.

Negara ini memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa, baik di darat,  laut, maupun perut bumi. Di bidang energi, Indonesia masuk dalam tiga besar negara penghasil energi panas bumi (geothermal), energi terbarukan untuk mengurangi energi fosil yang makin berkurang dan tidak ramah lingkungan. Potensi ini belum dioptimalkan dan saat ini Indonesia baru menggunakan 4%-5% dari kapasitas geothermal-nya. Sedangkan untuk kemandirian pangan, berbagai kendala yang ada di sektor pertanian harus bisa diatasi, yaitu penyediaan air dan menahan terjadinya konversi lahan pertanian.

Tentu pemerintah sudah mengidentifikasi berbagai masalah yang ada di bidang perekonomian maupun sosial dan politik serta merumuskan strategi untuk mengatasinya. Tingkat keberhasilannya sangat ditentukan oleh dukungan berbagai elemen bangsa ini, baik pemerintah pusat, legislatif, pemerintah daerah, dunia usaha baik badan usaha milik negara maupun swasta, dan masyarakat.

Ketahanan ekonomi akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan global yang diikuti maraknya kemajuan teknologi, informasi dan perkembangan global. Di era borderless ini muncul kecemasan akibat arus informasi bergerak sangat cepat dan generasi milenial yang sebagian mendeklarasikan sebagai warga global maupun munculnya identitas- identitas baru dari luar yang bisa melunturkan identitas dan kelangsungan hidup berbangsa. Tapi, nilai-nilai ideologi bangsa Indonesia yang dibangun oleh para founding father adalah sesuatu yang sudah selesai. Dengan berpegang pada Pancasila yang mengandung nilai-nilai luhur dan universal, maka ketahanan nasional berbasis ekonomi bisa mengukuhkan eksistensi indentitas Indonesia sebagai sebuah bangsa yang disegani dan mampu bersaing.

Masukkan kata kunci...

Social Links