Keuangan.co

Ketua Kamar Dagang Indonesia Bidang Pembiayaan Infrastruktur.

Diding S. Anwar

Mendorong UMKM Berorientasi Ekspor

Penulis: Diding S. Anwar
02 November 2018

Struktur perekonomian Indonesia masih diwarnai defisit, baik dari sisi fiskal, neraca perdagangan, maupun transaksi berjalan. Neraca perdagangan per September surplus US$227 juta, tapi belum menjadi berita menggembirakan. Pasalnya, surplus itu lebih disebabkan impor yang menurun 13,18%, sedangkan ekspor yang diharapkan meningkat justru menurun 6,58%.

Secara akumulatif, selama sembilan bulan neraca perdagangan deficit US$3,78 miliar. Khusus untuk neraca perdagangan nonmigas, surplus tapi pertumbuhannya melambat. Beberapa bulan terakhir mata uang rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (US$) dan deficit transaksi berjalan melebar.

Kondisi tersebut menunjukkan kelemahan ekonomi Indonesia yang harus diatasi dengan mendorong kinerja ekspor untuk menghasilkan devisa. Gempuran barang-barang impor, terutama produk konsumsi, harus diimbangi dengan kemampuan produkproduk buatan dalam negeri untuk menembus pasar ekspor.

Selama ini ekspor nonmigas disokong oleh tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, karet, produk hasil hutan, alas kaki, makanan olahan, otomotif, udang, kakao, dan kopi. Di luar itu, Indonesia memiliki banyak komoditas ekspor potensial untuk diekspor, tapi belum maksimal. Misalnya, komoditas rempah-rempah, tanaman obat, dan kerajinan. Indonesia dikenal sebagai negara penghasil rempahrempah terbaik di dunia. Kini rempah-rempah pun masuk dalam 10 komoditas ekspor potensial dari Indonesia.

Sayangnya, pemberdayaan komoditas rempah-rempah belum maksimal terlihat. Kontribusinya hanya sekitar 0,45% dari total ekspor nonmigas. Padahal, potensinya besar. Komoditas lada, misalnya. Luas perkebunan lada di Indonesia terbesar di dunia karena mencapai sekitar 171.000 hektare (ha).

Namun, posisi eksportir lada terbesar di dunia sudah diduduki oleh Vietnam. Melihat potensi komoditas dan kesempatan pasar yang terbuka di luar negeri, ini menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk mengembangkan usahanya dan merambah pasar ekspor. Kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestic bruto (PDB) mencapai 60%.

Namun, dari aspek kinerja, UMKM di Indonesia relatif masih rendah jika dibandingkan dengan UMKM di negara-negara tetangga. Terutama, dari segi produktivitas, kontribusi ekspor, partisipasi untuk produksi global dan regional, serta kontribusi terhadap nilai tambah. Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional baru 17% pada 2017. UMKM di negara tetangga seperti Filipina dan Thailand menyumbang ekspor masing-masing 25% dan 30%.

Pemerintah sudah menggalakkan ekspor nonmigas untuk mengatasi defisit transaksi berjalan. UMKM yang pada 2020 akan berjumlah 65 juta unit usaha bisa memperkuat kinerja ekspor nasional. “Gerakan” UMKM berorientasi ekspor perlu didorong. Berbeda dengan perusahaan perusahaan besar, UMKM lebih fleksibel.

Perusahaan-perusahaan manufaktur besar yang bersifat padat karya sering menghadapi ketidakpuasan buruh yang menuntut upah lebih tinggi dari yang ditetapkan pemerintah. Padahal, mereka sudah cukup kesulitan berkompetisi di luar negeri. Mereka bersaing ketat dengan produk-produk asal Tiongkok, India, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Bangladesh. Bahkan, pada era Revolusi Industri 4.0, negara maju pun bisa memproduksi produk massal karena tenaga kerjanya yang mahal bisa diganti dengan tenaga robot.

Sedangkan, UMKM lebih fleksibel karena sebagian besar bermain di sector informal. Mereka lebih dekat dengan sumber-sumber komoditas dan bisa memberdayakan modal sosial yang ada di sekitarnya. Upaya meningkatkan kinerja dan kontribusi UMKM terhadap ekspor perlu dukungan dari berbagai pihak. Dukungan permodalan akan membantu UMKM untuk mengembangkan usahanya dan meningkatkan skala ekonomi supaya lebih kompetitif di pasar.

Hambatan lain yang juga dihadapi pelaku UMKM adalah masalah pengelolaan, perizinan, teknologi informasi (TI), branding, dan akses pasar. Sedangkan, kendala UMKM menembus pasar ekspor disebabkan mereka belum memiliki jaringan dan kurangnya pemahaman tentang skema dan prosedur ekspor, syarat dan ketentuan sertifikasi, serta penetapan standar ekspor, termasuk kualifikasi kemasan produk. Agar UMKM memiliki kemampuan menembus pasar ekspor, harus ada langkah-langkah yang jelas untuk menyelesaikan berbagai hambatan tersebut.

Masukkan kata kunci...

Social Links