Keuangan.co

Keuangan Negara / Makro / Detail Berita

Biaya Produktivitas Investasi RI Masih Mahal

Penulis : Abdulloh Hilmi
10 Agustus 2019

Foto: Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani

Keuangan.co, Jakarta - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang nilainya lebih dari Rp 2.200 triliun ternyata belum optimal dilaksanakan. Alokasi biaya suatu program lebih banyak untuk biaya penunjangnya dibandingkan substansi yang dituju.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, rasio produktivitas Indonesia atau ICOR (inplemental capital to output ratio) masih di level 6%. Level tersebut, kata Sri Mulyani membuat biaya produksi masih mahal.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi peserta panel di acara Seminar Nasional Transformasi Ekonomi untuk Indonesia Maju di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8/2019).

"ICOR kita di atas 6, biaya ekonomi kita pasti tinggi. Itu karena banyak perantara daripada yang benar-benar kerja. Terlalu banyak pembahasan daripada yang mengerjakan," kata Sri Mulyani.

ICOR (inplemental capital to output ratio) atau rasio produktivitas Indonesia berada di level 6. Sri Mulyani menilai angka itu masih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Sejak 2016-2018, ICOR Indonesia bertengger di level 6,3. Sementara negara berkembang lainnya di ASEAN berada di level 3.

ICOR, kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga sebagai tolak ukur efisiensi suatu negara dalam hal investasi. Dengan ICOR yang tinggi, maka biaya untuk produktivitas dari suatu investasi pun masih tinggi di tanah air.

Oleh karena itu, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pemerintah terus menciptakan beberapa program yang bisa mengefisiensikan biaya produktivitas.

Seperti di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang membuat online single submission (OSS), dan Kementerian Keuangan ingin menciptakan pembayaran pajak semudah membayar pulsa.

"Jadi dengan teknologi mengurangi inefisiensi," ungkap dia.

#Kementerian Keuangan #Sri Mulyani #Investasi
Masukkan kata kunci...

Social Links